| — | 10208082 |
| — | 10208082 |

True story bro, ini yang pernah saya lihat dari audio mixer rakitan. Tampilan menggiurkan karena meniru mixer buatan pabrik (branded+impor) dan harga lumayan miring. Begitu ngeliat dalemnya pin XLR 1 plus 3 digabung jadi ground trus pake preamp standard mixer karaoke. Ya beginilah kalau merakit audio mixer ngga melibatkan orang yang ngerti sound atau minimal nanya ke Aki Google dulu.
Preamp mixer yang bener buat konektor XLR minimal tuh kaya yang di disini nih:
http://www.circuitdiagramlinks.com/769-balanced-microphone-preamp/
Sampai detik ini saya masih selalu ingat dengan filosofi tersebut. Ya, semua itu lahir kira-kira pada saat saya duduk di bangku SMP. Kelihatannya cukup ‘mengganggu’ bagi saya, tapi apa daya realita lah yang membidani kelahiran filosofi tersebut.
Saya ingat saat itu naluri iseng saya timbul. Nggak tau kenapa saya iseng membuka-buka binder milik teman saya yang ikut keputrian di musholla sekolah saya saat itu. Pandangan mata saya akhirnya tertuju pada suatu halaman yang berisi catatan dari aktivitas keputriannya. Lupa waktu itu persisnya seperti apa, tapi yang saya ingat di situ tertulis semacam deskripsi mengenai sebuah sekolah. Ya, sekolah yang gimana lah…. :-D . Seingat saya ada salah satu deskripsi yang menyatakan bahwa ekskul cheerleader itu ga banget. Nah, kalau saya hubungkan dengan aktivitas yang diikuti teman saya tadi itu, saya baru tahu nih alasannya kenapa. Tapi sorry, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di sini saya ngga mau terlalu membahasnya.
Yup, beralih ke masalah cheerleader tadi. Saya sempat mikir koq bisa-bisanya dicap seperti itu. Terus terang saya yang bukan anak cheeleader janten ngaraos gimana kitu pas baca tulisan tadi. Menurut saya kegiatan kaya gitu jauh lebih baik daripada berkegiatan ‘gaje’ alias ngga jelas seperti nongkrong2 macam alay di pinggir jalan atawa di mall. Jauh lebih baik pula daripada tawuran, bikin foto atau video syur, bahkan sampai jual diri ke om-om girang. Eksis karena ikut cheerleader? Jauh lebih baiklah daripada eksis sebagai ABG yang foto-foto skandalnya tersebar luas di dunia maya dan menjadi target operasi para netter mesum.
Nggak habis pikirlah kalau saya ingat hal-hal tadi. Okelah kita selama ini berusaha menciptakan benteng atau perisai sebagai penangkal pengaruh buruk yang datang dari luar. Benteng atau perisai itulah saya anggap sebagai kotak dan kita bebas bergerak di dalamnya dengan nyaman. Namun apa yang terjadi setelah saya baca tulisan teman saya tadi ? Sejujurnya saya merasa begitu mudahnya segala sesuatu dicap sebagai ‘dosa’. Seolah-olah setelah bersusah payah membuat kotak tadi, ternyata harus membuat kotak lagi yang lebih kecil di dalamnya dan kita harus tinggal di dalam kotak baru tersebut. At least, ternyata kotak di dalam kotak tersebut ngga hanya berlaku juga buat kasus cheerleader barusan, ternyata berlaku juga buat yang lainnya!
Terserah apapun tanggapan anda, tetapi inilah proses kelahiran kotak di dalam kotak.
| — | 10208082 |

